Friday, March 5, 2010

KETIKA CINTA BERTASBIH - (3) Bidadari Dari Darul Qur'an


AZZAM bangun sepuluh minit sebelum azan Subuh berkumandang. Ia masih punya kesempatan buang hajat dan gosok gigi. Setelah itu ia mengambil air wudhu'. Ia teringat belum solat Witir. Ia sempatkan untuk Witir tiga rakaat. Selesai solat, ia sempatkan untuk menyebut nyebut ibu dan adik adiknya dalam munajat.

Azan Subuh berkumandang. Ia bangkit membuka langsir biliknya. Jalan utama Kota Alexandria masih lengang. Hanya satu dua buah kereta yang berjalan. Kabut tipis nampak rata menyelimuti gedung gedung. Kaca jendela sedikit mengembun. Udara di luar bererti dingin. Alexandria memang sedang memasuki peralihan musim. Peralihan dari musim dingin ke musim menuai. Sisa sisa musim dingin masih terasa. Waktu subuh tiba, udara masih menyengatkan hawa dinginnya. Dalam keadaan seperti itu, melingkarkan tubuh di tempat tidur dengan kehangatan selimut tebal terasa sangat nyaman. Lebih nyaman daripada bangkit menuju masjid.

Hayya 'alash shalaah.
Hayya 'alash shalaah.
Hayya 'alah falaah.
Hayya 'alah falaah.
Ash shalaatu khairun minan nauum.
Ash shalaatu khairun minan nauum.

Suara azan bergema, memantul dari gedung ke gedung. Menyusup masuk ke rumah rumah menggugah jiwa jiwa yang lelap. Suara itu nyaring bagai burung camar, terbang ke tengah laut. Dan mencumbui laut dengan mesra. Solat itu lebih baik dari tidur. Solat itu lebih baik dari tidur.

Allahu akbar.
Allahu akbar.
Laa ilaaha illallah.

Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat. Menyapa alam. Menyapa pasir pasir di pantai. Menyapa kerikil kerikil. Menyapa tar. Menyapa pohon pohon kurma. Menyapa embun embun. Menyapa ombak yang berdesir. Menyapa gelombang yang naik turun. Menyapa kabut yang lembut. Menyapa udara. Menyapa alam semesta. Menyapa apa saja. Semuanya menjawab. Semuanya solat. Semuanya menyucikan dan mengagungkan asma' Allah. Semuanya bertakbir kecuali yang tetap tidur.

Seolah mengiringi takbir alam di pagi itu, bibir Azzam bergetar mengucap takbir menjawab azan. Dengan tenang ia melangkahkan kedua kakinya meninggalkan hotel yang masih lengang. Sampai di masjid ia mendapati Pak Ali yang sedang sujud di saf depan. Azzam solat Tahiyatul Masjid. Lalu solat Qabliyyah Subuh. Sambil menunggu imam berdiri di mihrabnya ia mengulan ngulang membaca doa Nabi Yunus. Doa itulah yang telah menyelamatkan Nabi Yunus dari kegelapan di perut ikan. Doa yang mampu menurunkan kasih-sayang Tuhan. Doa yang mampu mendatangkan keajaiban keajaiban. Doa yang ni'mat dilantunkan dan terasa sejuk di hati dan fikiran.

Laa ilaaha illa anta.
Subhanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.

Orang orang Mesir berdatangan. Ada dua puluh orang. Seorang lelaki separuh umur dengan janggut yang telah memutih sebahagian menuju ke depan. Solat Subuh didirikan. Sang imam membaca surah An.Najm. Azzam larut dalam penghayatan. Orang Mesir yang solat di sebelah kanannya menangis kesenggukan. Bacaan sang imam memang menyentuh perasaan. Apalagi orang Mesir biasanya faham makna ayat ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan.

Azzam sendiri hanyut dalam keindahan ayat demi ayat yang dibaca sang imam. Hati dan fikirannya terlarut dalam tadabbur yang dalam. Ia merasakan seolah olah Tuhan yang menurunkan Al-Qur'an mengkhabarkan kepadanya bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menerima wahyu yang diturunkan.

Demi bintang ketika terbenam.
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
Dan tiadalah yang ia ucapkan itu (Al-Qur'an) menurut
kemahuan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan (kepadanya).

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril) itu menampakkan
diri dengan rupa yang asli. (An-Najm: 1-6)


Ia seolah olah turut berada di zaman kenabian. Seolah olah ia ikut serta menyaksikan Rasulullah Shallalahu'alaihi wasallam menerima ayat ayat suci Al-Qur'an. Seolah olah ia mendengar suara Jibril membacakan Al-Qur'an, sampai Rasulullah Shallalahu'alaihi wasallam hafal tanpa keraguan. Seolah olah ia mendengar bagaimana Rasulullah Shallalahu'alaihi wasallam mengajarkan Al-Qur'an kepada sahabat sahabatnya yang selalu haus hikmah dan ilmu pengetahuan.

Ayat demi ayat dibaca sang imam. Orang Mesir sebelah kanannya terus meangangguk anggukkan kepalanya. Fikiran dan hatinya masih larut dalam tadabbur dan penghayatan. Surah An-Najm membuatnya menggigil ketika menghuraikan untuk apa Islam diturunkan. Demi kebahagiaan manusia dan alam semesta, Islam diturunkan. Tuhan menurunkannya dengan segenap rasa cinta dan kasih sayangNya. Tidak ada sedikit pun Tuhan memiliki keinginan mengambil keuntungan dari makhlukNya. Allah yang menggenggam langit dan bumi serta isinya sama sekali tidak memerlukan makhluk makhlukNya. Justeru makhluk makhlukNyalah yang memerlukan Allah, Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Penyayang. Allah memberi kebebasan seluas luasnya kepada makhluk makhlukNya untuk memilih berbuat baik atau kejahatan. Semua ada balasannya masing masing. Adil. Tidak ada kezaliman. Setiap orang menuai apa yang ia tanam.

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereke kerjakan. Dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik. (An-Najm : 31)


******

Sambil menyenandungkan zikir pagi, Azzam berjalan di atas pasir yang lembut. Ia berjalan di samping Pak Ali. Hari masih sangat pagi. Pantai Cleopatra masih sepi. Udara berkabut tipis. Desau angin laut yang berhembus terasa membelai dengan lembut relung relung jiwa. Kedamaian yang hampir sempurna. Tiga orang gadis Mesir dengan lari lari kecil melintasi mereka berdua. Sambil berlari mereka bergurau bahagia. Tubuh mereke tertutup rapat dengan seluar sukan panjang dan baju lengan panjang. Yang dua menutup kepala dengan tudung Turki. Sedangkan yang satu lagi membiarkan rambutnya terurai diterpa angin ke sana ke mari. Salah seorang di antara mereka memandang ke belakang. Sekilas Azzam menatap wajahnya. Putih bersih khas Mesir. Gadis itu terus menarik wajahnya dan tertawa sambil terus berlari bersama dua temannya. Meskipun cuma melihat sekilas gadis Mesir itu tak kalah mempersonanya dibandingkan dengan Eliana.

"Cantik ya Mas?" Suara Pak Ali menyedarkan Azzam bahawa ia bukan sedang berjalan sendirian.

"Siapa Pak yang cantik?" Sahut Azzam.

"Ya gadis Mesir itu, yang memandang dan menatap kamu."

"Kalau gadis Mesir, ya jangan ditanyalah Pak. Katanya kalau ada gadis Mesir tiga, maka yang cantik enam", jawab Azzam santai.

"Kok begitu. Tiga orang kok, yang cantik enam."

"Bayangnya juga cantik."

"Wah, kau ada ada saja."

"Saya kan cuma beritahu katanya tho Pak. Katanyakan boleh benar, boleh tidak."

"Ngomong ngomong cantik mana gadis tadi sama anaknya Pak Dubes, Eliana."

Azzam terhenyak, ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Pak Ali. Entah mengapa ia sebenarnya tidak ingin berbicara tentang Eliana. Sudah terlalu sering Eliana dijadikan topik pembicaraan di kalangan mahasiswa, putera mahupun puteri, juga di kalangan masyarakat Indonesia. Baik di dalam mahupun di luar KBRI. Azzam sudah bosan, apalagi jika teringat kejadian malam tadi. Ia sama sekali sudah tidak tertarik dengan Eliana.

"Apa tidak ada topik lain Pak, selain Eliana? Pagi pagi begini sudah membahas pasal Eliana. Eliana lagi, Eliana lagi."

Pak Ali tersenyum mendengar jawapan Azzam.

"Aku ingin menceritakan hal penting padamu. Untuk kebaikanmu."

"Tentang Eliana?"

"Boleh dikatakan tentang Eliana, boleh juga dikatakan tidak."

"Mendengar nama Eliana saja saya sudah bosan Pak."

"Ah, yang benar?"

"Benar Pak, sungguh."

"Mas, bapak ini sudah makan garam lebih darimu. Bapak tidak boleh kau bohongi. Jujur saja, bapak sudah memperhatikanmu sejak empat hari ini. Dan bapak melihat kamu itu sebenarnya sangat mengkagumi Puteri Pak Dubes itu. Bahkan bapak berani menyimpulkan kamu itu sebenarnya suka sama dia."

"Bererti bapak salah menganalisis dan salah menyimpulkan!"

"Itu tak penting. Yang penting bapak ingin memberi saranan kepadamu. Ini serius, sebaiknya orang seperti kamu jangan sekali jatuh cinta sama sekali dengan Eliana, dan orang seperti kamu jangan sekali kali memimpikan isteri model macam Eliana. Itu saja!"

Seketika Azzam menghentikan langkahnya. Kerana ada larangan dalam saranan Pak Ali ia menjadi terhenyak penasaran. Seperti Nabi Adam ketika dilarang makan buah Khuldi malah jadi penasaran. Dan begitulah manusia jika mendapat larangan seringkali reaksi yang pertama kali timbul adalah justeru penasaran ingin tahu. Ada apa dilarang? Kenapa dilarang?

"Memangnya kenapa Pak Ali?"

Pak Ali tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Azzam.

"Sudahku duga, pasti pertanyaan itu yang akan terus keluar, kau pasti penasaran kenapa aku sarankan sebaiknya jangan memimpikan isteri model seperti Eliana, alasan utamanya adalah agar kau tidak sengsara, tidak hidup sia sia. Agar kau bahagia! Aku melihat kau sangat tidak sesuai jika mempunyai isteri gadis model macam Eliana. Ya, dia cantik dan cerdas. Juga kaya. Anak orang kenamaan. Tapi kebahagiaan rumah tangga tidak cukup hanya dengan memiliki isteri yang cantik, cerdas, kaya dan terhormat. Tidak. Akhir akhir ini Eliana memang jadi buah mulut. Termasuk di kalangan mahasiswa Al-Azhar. Baik putera mahupun puteri. Tidak sedikit yang aku lihat sangat tertarik pada Eliana. Meskipun mereka tahu bagaimana cara berpakaiannya yang terkadang tidak kalah beraninya dengan artis Hollywood. Yang aku hairan, bagaimana mungkin ada mahasiswa Al-Azhar tertarik dengan gadis model itu. Mana Al-Qur'an dan Hadith yang telah kalian pelajari? Dan aku lihat kamu sendiri sebenarnya terpikat dengan kecantikan Eliana. Aku dapat melihat dari bahasa tubuhmu, pandangan matamu, dan getar suaramu. Kau boleh saja mengatakan bosan mendengar namanya. Tapi aku lebih tua darimu."

"Tapi Eliana itu kalau pakai tudung seperti ketika menjadi pengerusi peringatan tahun baru hijriyah nampak anggun dan cantikkan Pak?"

"Ya, boleh dikatakan begitu kok mengingkari kalau tertarik pada Eliana. Ya, Nicole Kidman kalau pakai tudung juga cantik. Eliana juga. Tapi kalau di kelab malam tidak kalah dengan penari gelek. Kau mahu punya isteri seperti itu?"

"Pak, jangan membuka aib orang, jangan memfitnah orang dong!"

Pak Ali malah tersenyum.

"Kalau aku mengatakan si Tiara, mahasiswi Al-Azhar yang biasa mengajar Al-Qur'an di Masjid SIC itu tatkala di kelab malam tak kalah dengan penari perut barulah aku dikatakan memfitnah dia. Lah, orang seperti Eliana sendiri bangga cerita ke mana mana. Bahkan ia sudah cerita di website peribadinya. Ayahnya yang jadi Dubes itu juga bangga. Bahkan ia pernah meminta puterinya menunjukkan kebolehannya di hadapan diplomat diplomat asing. Sampai ada seorang sutradara Mesir yang akan memintanya ikut berlakon filem. Kalau kemungkaran itu ditutu tutupi saya akan berusaha ikut menutupi. Ini kemungkarannya malah dipropagandakan, dibangga banggakan. Cuba kau renungkan, apakah ketika aku menasihati anak perempuanku agar tidak mencontohi Nicole Kidman yang sangat bangga tampil tanpa berpakaian di sebuah pertunjukan teater di Inggeris, aku katakan : "Jangan mengkagumi orang yang suka bermaksiat terang terangan itu!", apakah itu bererti aku memfitnah bintang Hollywood itu? Padahal berita perbuatan gilanya itu dimuatkan di akhbar akhbar dan internet di seluruh dunia."

"Kok saya tidak pernah tahu hal hal seperti itu Pak?"

"Sebaiknya memang kamu tidak tahu yang begitu begitu. Kalau tahu nanti jadi susah, kau tidak jadi buat tempe. Tidak juga jadi kuliah. Adik adikmu di Indonesia boleh kelaparan. Kerana fikiranmu ke mana mana. Aku hanya ingin mengingatkan padamu jangan mudah tertarik pada perempuan cantik. Di akhir zaman itu tidak sedikit perempuan yang cantik mempersona, namun sebenarnya adalah seorang pelacur. Na'udzubillaah!"

"Tapi perempuan cantik yang solehah, benar benar solehah dan menjaga kesuciannya banyak Pak."

Pak Ali kembali tersenyum.

"Ya, bapak percaya itu. Kerana itulah kamu harus benar benar matang dalam memilih isteri. Jangan asal cantik. Kebetulan bapak punya cerita tentang gadis yang cantik, solehah, mempersona dan cerda.s Kau mahu mendengarkan?"

"Wah, boleh Pak."

"Kalau begitu mari kita duduk di sana. Bapak akan cerita panjang lebar." Kata Pak Ali sambil menunjuk pembatas jalan di pinggir jalan yang boleh diduduki. Mereka berdua berjalan ke sana. Alexandaria semakin terang. Kabus mulai hilang perlahan lahan. Pantai mulai ramai. Jalan jalan sudah mulai dipenuhi kenderaan yang lalu lalang. Di kejauhan nampak Benteng Qaitbey berdiri di hujung tanjung. Gagah dan menawan. Mereka duduk menghadap laut yang bergelombang tenang. Azzam memandang ke arah kiri, ke arah benteng. Sementara Pak Ali memandang ke arah kanan.

"Kalau mereka itu, aku yakin wanita wanita solehah." Gumam Pak Ali sambil memandang Azzam, mengalihkan pandangan.

"Itu mana Pak?"

"Itu." Tunjuk Pak Ali ke arah rombongan gadis gadis bertudung. Dan cara mereka memakai tudung dan cara mereka berjalan menunjukkan mereka dari Asia. "Mereka anak anak Malaysia. Hampir semua yang kuliah di Al-Azhar Banat di sini adalah mahasiswi dari Malaysia. Indonesia boleh dikatakan tidak ada. Semua mahasiswinya berkumpul di Cairo," Pak Ali menjelaskan panjang lebar seolah olah Azzam bukan mahasiswa Al-Azhar. Azzam diam saja, tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu. Ia sudah sembilan tahun tinggal di Mesir.

"Sudah Pak, tidak usah membahas mahasiswi Malaysia itu. Terus saja pada cerita yang ingin Pak Ali sampaikan tadi. Matahari sudah bersinar terang. Kita masih belum sarapan."

"Baiklah nak. Dengarkan baik baik ya. Ceritanya ada sangkut paut sedikit dengan hidupku."

"Namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad memerlukan pembantu peribadi yang boleh berbahasa Inggeris. Dan ia meminta pada Pak Ustaz kalau ada di antara pelajarnya yang boleh diharapkan. Pak Ustaz menawarkan padaku. Aku menerimanya dengan harapan dapat ke Tanah Suci untuk menangis kepada Allah di depan Ka'bah."

"Aku pun berangkat ke Saudi. Teman Pak Ustaz yang membiayai tiketnya. Aku berkerja di Jeddah. Sangat seronok. Aku merasakan hidup tenang. Hubungan dengan Pak Ahmad juga sangat baik. Aku sudah dianggap saudara sendiri oleh keluarga Pak Ahmad. Aku berdoa di depan Ka'bah agar diberi pendamping hidup yang setia dan baik. Doa itu dikabulkan oleh Allah. Suatu pagi, ya pagi seperti ini, aku dipanggil Pak Ahmad. Pak Ahmad berkata: "Li, kamu mahu bernikah?"

Aku terkejut sekali. Memang itulah doaku setiap kali aku ada kesempatan berdoa di Multazam. "Mahu, Pak," jawabku.

"Tapi dia janda beranak dua. Tidak perawan. Bagaimana? Mahu?"

"Asal solehah mahu Pak."

"Dia solehah, insya Allah. Begini Li. Kalau kau mahu, kau harus pergi ke Mesir. Perempuan itu sekarang berada di Mesir. Suaminya telah meninggal setengah tahun yang lalu. Dua anaknya masih kecil kecil. Dan ia tetap ingin berada di Mesir sampai mempunyai bekalan yang mencukupi untuk menjalani hidup di Indonesia."

Aku terus bertanya: "Jadi saya nanti harus meninggalkan Jeddah dan tinggal di Mesir Pak?"

"Tidak apa apa. Kalau kau mahu, bererti kau telah menolong janda dan dua orang anaknya. Kalau ikhlas besar pahalanya. Dan kau di Mesir sana akan terus mendapat pekerjaan. Jangan risau."

"Apa pekerjaannya Pak?"

"Menggantikan pekerjaan almarhum suami janda itu. Iaitu cleanning service merangkap pemandu KBRI. Bagaimana Li, kamu mahu?"

Aku lalu menjawab: "Baiklah, bismillah saya mahu."

"Akhirnya aku bernikah dengan orang yang sekarang menjadi isteriku. Allah tidak hanya memberiku isteri solehah. Tapi Allah juga memberiku isteri yang cantik, penyabar, dan sangat memahami. Lebih dari itu Allah menganugerahiku dua orang anak yang sangat menyejukkan hati. Dua orang anak itu tidak pernah menganggap aku bukan ayahnya. Mereka tahu, ayah mereka adalah aku ini. Inilah jalan hidup yang diatur oleh Allah. Sebab sekian tahun aku berumahtangga tidak juga punya keturunan. Ternyata setelah menjalani pemeriksaan doktor, aku diberitahu tidak dapat mempunyai keturunan. Aku semakin sayang pada isteri dan anak anakku. Mereka pun semakin sayang padaku. Anakku yang pertama sekarang sedang belajar di Malaysia. Anak yang kedua kuliah di Fakulti Kedoktoran UNS Solo. Seperti yang kau ketahui, di sini aku hidup berdua bersama isteri. Sesekali kami yang menjenguk mereka atau mereka yang menjenguk kami. Kini aku sangat bahagia. Tahun depan aku dan isteri merancang untuk meninggalkan Mesir. Alhamdulillah, kami sudah mempunyai rumah di Solo Baru."

Pak Ali menghela nafas. Ada gurat kepuasan yang tergurat di wajahnya. Pak Ali membetulkan letak kaca matanya. Azzam merasa belum puas. Ia merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Pak Ali.

"Cerita gadis cantik solehahnya mana Pak?"

Pak Ali tersenyum.

"Sabarlah nak. Gadis cantik saja yang kau fikir."

"Pak Ali tadikan beritahu mahu cerita tentang gadis cantik yang solehah. Sekarang ini sudah ke mana mana belum muncul muncul juga."

"Kau ini kok inginnya meloncat. Langsung ke intinya. Filem kalau langsung ke intinya tidak menarik. Novel kalau langsung kau baca intinya juga tidak menarik. Kau harus sabar membacanya. Baca mengikut urutan bab demi bab. Paragraf demi paragraf. Kata demi kata. Huruf demi huruf. Baru akan kau temukan keindahan rangkaian novel itu. Keutuhan cerita novel itu. Jangan lompat lompat. Jangan main potong langsung ke inti. Cerita tentang gadis solehah yang indah ini juga begitu. Ada rangkaian ceritanya yang tidak boleh ditinggalkan. Kalau ditinggalkan ceritanya tidak utuh."

"Sudahlah Pak, ayoh dilanjutkan saja ceritanya. Jangan malah berceramah tentang novel pulak. Apa hubungannya. Macam sasterawan saja!"

"Lho, erat sekali hubungannya cerita dengan novel lho Mas. Begini..."

Azzam terus memotong.

"Dilanjut saja ceritanya Pak. Tentang sastera, hubungan cerita dengan novel, biar nanti saya baca sendiri saja di perpustakaan SIC. Dah nak siang Pak."

"Baiklah. Anakku yang kuliah di Malaysia itu lelaki, namanya Amir. Dulu selesai SPM (Sek. Men. Pertama) di SIC (Sek. Indonesia Cairo) terusku hantar ke Al-Munawwir Krapyak Jogja. Selesai Madrasah Aliyah terus dapat biasiswa ke Madinah. Sekarang mengambil M.A. di Malaysia. Dia belum berkahwin. Dia sendiri tidak tahu kisah sejarah masa laluku sebelum taubat. Dia hanya tahu aku adalah seorang ayah yang dulu pernah menuntut di Pesantren. Dan aku fikir dia tidak perlu tahu. Biar dia tahu yang baik baik saja. Nanti kalau dia mahu cari isteri, baru akan bapak beritahu."

"Bererti kira kira dia seusia dengan saya ya Pak."

"Lebih tua daripada kamu dua tahun. Aku lanjutkan ya. Sedangkan adiknya yang kini kuliah di Fakulti Kedoktoran UNS, sejak SMP sudahku letakkan di Pesantren."

"Di pesantren mana Pak?"

"Di pesantren tempat aku belajar dulu. Aku amanahkan pada Ustaz yang mengurusku selama setahun itu. Pak Ustaz itu namanya K.H. Luthfi Hakim. Nama pesantrennya, Daarul Qur'an. Terletak di Desa Wangen, Polanharjo."

"Oh ya, saya tahu Pak. Saya dulu pernak ke sana sekali. Itu kan letaknya dari Popongan terus ke Barat. Dekat dengan daerah Janti, Kiaten."

"Ya benar."

"Terus, apa hubungannya pesantren itu dengan cerita gadis cantik yang solehah itu? Apa yang Pak Ali maksudkan adalah anak gadis Pak Ali itu?" Azzam sudah tidak sabar. Ia merasa cerita Pak Ali melingkar lingkar tidak segera sampai kepada apa yang dimaksudkan.

"Tidak. Sama sekali tidak. Aku sudah tahu standard kecantikan yang kau pakai. Standard kamu adalah Eliana dan gadis gadis Mesir. Maka anak gadisku meskipun menurutku cantik, tapi jika standardnya dengan Eliana boleh dikatakan tidak cantik. Bersabarlah sedikit, sudah hampir sampai pada tujuan. Aku kembali ke alur cerita. Anak gadisku itu aku amanahkan kepada Pak Kiyai Luthfi. Beliau jaga dan beliau didik dengan baik. Pada saat yang sama Pak Kiyai Luthfi mempunyai anak gadis yang sangat cerdas. Dan sangat cantik. Sungguh sangat cantik. Kecantikannya ibarat permata maknun yang mengalahkan semua permata yang ada di dunia. Aku berani bertaruh kecantikannya dapat mengatasi Eliana. Ini menurutku lho. Sebab kecantikan seorang perempuan di mata lelaki itu benar. Dan untuk kecerdasannya aku berani bertaruh tidak banyak gadis seperti dia. Aku tahu sangat, sebab aku pernah belajar dengan ayahnya selama setahun. Jika Eliana boleh berbahasa Perancis dan Inggeris, maka Puteri Pak Ustaz Luthfi ini juga boleh berbahasa Arab, Inggeris dan Mandarin. Ketika menuntut di Madrasah Aliyah, dia pernah ikuti program pertukaran pelajar ke Wales, U.K. Dan apa kau tahu di mana dia sekarang?"

Azzam menggelengkan kepala.

"Dia sekarang ada di Cairo. Sedang melanjutkan M.A.nya di Kuliyyatul Banat, Al Azhar. Dia sedang mengajukan judul tesisnya."

"Sedang mengambil M.A.? Siapa namanya? Kenapa saya tidak pernah dengar ceritanya."

"Namanya Anna Althafunnisa."

"Anna Althafunnisa?"

"Baru kali ini saya dengar nama itu. Aneh sekali. Padahal orang orang di rumah saya semuanya aktivis. Tapi mereka tidak pernah menyebut nama itu ya?"

"Tidak banyak orang yang tahu. Sebab Anna Althafunnisa menyelesaikan B.A.nya bukan di Cairo. Tapi di Alexandaria sini. Ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswi Malaysia dari mahasiswi Indonesia. Dan Anna lebih memilih menutup diri dari kegiatan kegiatan yang bersifat glamour. Kalau kau sempat membaca majalah Al-Wa'yu Al-Islami, cubalah cari edisi bulan lalu. Ada artikelnya yang dimuatkan di sana. Dia memakai nama pena Anna Luthfi Hakim."

"Sekarang dia tinggal di Cairo?"

"Ya. Dialah gadis cantik dan solehah yang aku maksudkan. Dan saat ini ayahnya menginginkan dia segera bernikah. Aku fikir kamu lebih baik bernikah dengan orang yang sebaik Anna daripada dengan model Eliana. Kalau kamu mendapatan Anna, kamu telah mendapatkan syurga sebelum ke syurga. Percayalah padaku. Aku tahu betul kualiti Anna, ayahnya, dan keluarganya. Mereka dari golongan orang orang yang ikhlas. Saranan saya khitbahlah Anna Althafunnisa itu sebelum bidadari dari Pesantren Daarul Qur'an itu dikhitbah orang lain."

Hati Azzam berbunga bunga. Ada rasa sejuk yang tiba tiba menyelinap ke dalam dadanya. Namun ia tiba tiba diserang rasa ragu.

"Apakah saya layak melamarnya Pak? Apakah saya layak untuknya? Saya ini mengambil B.A. pun sudah sembilan tahun belum juga selesai. Dan apa prestasi saya? Apa yang boleh saya andalkan? Membuat tempe? Apakah ada ustadz yang mahu anaknya bernikah dengan penjual tempe?"

"Kenapa kamu jadi rendah diri begitu. Percayalah padaku, Pak Kiyai Luthfi itu tidak pernah memandang dunia. Dunia itu remeh bagi beliau. Datanglah, lamarlah. Belilah tiket, pulanglah ke Indonesia dan lamarlah bidadari itu!"

"Waduh, kalau kena pulang, berat Pak. Apakah tidak ada cara lain selain pulang?"

Pak Ali diam mengerutkan keningnya, sebentar kemudian, wajahnya cerah. Setengah berteriak ia menjawab: "Ada! Kau boleh melamar melalui Ustadz Mujab. Ustadz Mujab itu keluarga dekat Ustads Luthfi. Kau temui saja Ustadz Mujab dan sampaikan maksudmu untuk disampaikan kepada Ustadz Luthfi dan Anna. Insya' Allah semua akan mudah. Ustadz Mujab, kau kenalkan?"

"Wah, lebih dari kenal. Saya sangat rapat dengannya tapi yang membuat saya hairan, kenapa beliau sama sekali tidak pernah menyebut nama Anna Althafunnisa sama sekali ya?"

"Itulah mahalnya Anna Althafunnisa. Tidak sembarangan dibicarakan. Tidak sembarangan dikatakan. Bukankah permata yang sangat mahal itu jarang dipamirkan orang?"

"Pak Ali ada gambarnya?"

"Aduh, sayang sekali tidak ada. Tapi itu tidak penting. Terus saja kau lamar. Kalau setelah menyuntingnya kamu menyesal, akan aku serahkan leherku ini untuk kau pancung. Sungguh!"

Azzam tersenyum. Kata kata terakhir Pak Ali semakin membuatnya mantap sekaligus penasaran. Seperti apa Anna itu? Namun, ia merasa telah mendapat jawapan atas tekad yang ia ikrarkan sebelum tidur malam tadi. Tekad yang ia sertai dengan doa.

Ia yakin Anna adalah jawapan atas doanya yang ia bawa sampai tidur. Ia yakin bukanlah suatu kebetulan jika pagi itu Pak Ali akan bercerita tentang Anna Althafunnisa. Itu bukanlah kebetulan belaka. Sebab ia menyakini bahawa segala yang terjadi di alam semesta ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah ditulis takdirnya dan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tekadnya telah bulat.

Setelah sampai di Cairo, ia akan datang ke rumah Ustadz Mujab. Datang untuk menanyakan gadis yang disebut sebut Pak Ali sebagai "Bidadari dari Pesantren Daarul Qur'an."

Ia akan menanyakan apakah gadis itu masih kosong belum dikhitbah orang? Apakah gadis itu boleh dipinangnya? Kalau ya, maka ia akan terus meminangnya. Saat itu juga kalau boleh. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya.

******

Apa agaknya yg dpat korang kutip dari 3 bab yg sempat aku paparkan ini??? Klu aku... pertama kali membacanya terasa bagai ada sesuatu yg menyusup halus dan amat perlahan dlm diri...


Friday, February 19, 2010

KETIKA CINTA BERTASBIH - (2) Tekad Berajut Doa

Amacam ??? Selepas korang menikmati bab pertama. Aku rase, tentu ada yang tak sabar sabar nak menyelusuri bab seterusnya... Cakap banyak tak mo... teruskan saja dong pembacaannya ...

MAJLIS
makan malam itu berlangsung di sebuah taman yang terletak di garis Pantai El Muntazah. Sebuah pantai yang terkenal dengan keindahannya di Alexandaria. Azzam sama sekali tidak boleh menikmati majlis itu, sebab ia sibuk menyiapkan ikan bakar khusus buat permintaan Bapak Duta Besar, ayah Eliana. Azzam yang ingin istirehat di malam terakhir merasa tidak boleh istirehat. Ia yang sedikit ingin merasakan suasana romantik di El Muntazah yang sangat terkenal itu sama sekali tidak boleh merasakannya.


Azzam membakar semua ikan yang dibeli oleh Pak Ali. Ia meracik bahan perencah sehalus mungkin. Ia minta Pak Ali membantunya mengipasi arang agar terjaga baranya, sementara ia membuat sambalnya. Akhirnya ia boleh menghidangkan ikan bakar keinginan itu ke hadapan dua orang Duta Besar, iaitu ayah Eliana, Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan kawannya Duta Besar Indonesia untuk Turki. Dua Duta Besar itu duduk di tempat terpisah dari staf KBRI yang lain. Mereka memang ingin bernostalgia berdua saja. Di hadapan mereka ada satu mangkuk berisi nasi panas yang masih mengepulkan asap. Pinggan berisi ikan bakar. Dua piring kecil berisi sambal. Dua piring agak besar berisi ulam ulaman. Lalu dua bekas berisi air untuk mencuci tangan. Dan dua piring besar yang masih kosong. Azzam mempersilakan keduanya untuk menikmati hidangan itu.

"Terima kasih ya", kata Pak Alam, ayah Eliana pada Azzam. Azzam tersenyum dan mengangguk dengan ramah sambil sekali lagi mempersilakan untuk menjamu. Lalu ia meminta diri.

"Hidangan ikan bakar ini untuk mengingatkan masa masa kita belajar di Jogja dulu. Meskipun kita berada di Alexandaria, tapi ini saya siapkan ikan bakar seperti yang kita rasakan di Parangtritis dulu". kata Pak Alam.

"Wah, sungguh tidak rugi aku berkunjung ke Mesir menjenguk teman lama. Sungguh, aku merasa sangat terhormat menerima kejutan ini", sahut Pak Juneidi dengan senyuman yang lebar.

"Ayuh, terus saja Pak Jun. Mencium baunya sudah tidak sabar rasanya perut ini. Ayuh kita makan guna tangan saja rasanya lebih nikmat", kata Pak Alam sambil mengambil satu pinggan yang kosong dan mengisinya dengan nasi. Lalu ia mencuci tangan kanannya ke dalam mangkuk berisi air dan jeruk nipis.

"Ya, benar Pak Alam. Makan dengan tangan memang lebih nikmat", balas Pak Juneidi seraya melakukan hal yang sama.

Dua Duta Besar itu terus asyik bernostalgia sambil menikmati ikan bakar buatan Azzam. Dari jauh Azzam melihat dengan mata puas. Ia duduk melihat sekeliling. Di sisi yang lain tidak jauh dari dua Duta Besar itu staf KBRI sedang berpesta bersama beberapa orang mahasiswa dan rombongan Penari Saman yang didatangkan dari Aceh. Eliana duduk berbincang bincang dengan seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang berbincang dengan Eliana adalah Furqan. Teman satu pesawat ketika datang ke Mesir dulu. Ada sedikit api memercik dalam dadanya, namun ia redam segera. Ia merasa tidak kena pada tempatnya ia merasa cemburu. Eliana itu siapa? Bukan siapa siapa dengannya.

Melihat Furqan yang selalu dalam posisi begitu terhormat, Azzam tidak boleh membohongi dirinya sendiri. Bahawa ada rasa iri hati. Iri hati ingin jadi seperti dia. Rasa itu begitu halus masuk ke dalam hatinya. Dulu, ia dan Furqan satu pesawat. Lalu selama setahun satu rumah. Tahun pertama di Mesir ia naik tingkat dengan nilai lebih baik dari anak ahli koperat Jakarta itu. Bahkan Furqan sering bertanyakan padanya tentang kosa bahasa Arab yang musykil ketika membaca buku nota. Tapi kini, teman lamanya itu sudah hampir selesai M.A.nya di Cario University. Dan ia sendiri B.A.nya saja masih belum lulus lulus, apalagi M.A.. Furqan lebih dikenali sebagai intelektual muda yang sering diminta menjadi pembicara di pelbagai kelompok kajian, sedangkan dirinya lebih dikenali sebagai penjual tempe, pembuat bakso dan tukang masak serba boleh, namun tidak juga lulus ujian.

Azzam menghela nafas dalam dalam. Lalu ia berdiri mencari cari Pak Ali. Ia memandang ke kanan dan ke kiri. Mengalihkan pandangannya ke segala arah. Namun tiada juga ia temukan Pak Ali. Ia sendirian. Hendak bergabung dengan staf KBRI itu, rasa kekok. Mereka sudah memulai acara dua puluh minit yang lalu. Ia memutuskan untuk menikmati kesendiriannya itu. Untung tadi ia sempat mengambil sepinggan nasi dan seekor ikan untuk dirasai . Dan sambil duduk Azzam mula menyantap ikan bakar itu. Perutnya sudah tersangat lapar. Ia makan dengan lahap bersendirian, sambil menatap bulan dan bintang bintang. Tiba tiba ia teringat ibu dan ketiga tiga adiknya di Indonesia.


"Mereka pasti sedang tidur nyenyak di sana . Ibu mungkin sedang berdoa dalam solat malamnya." Lirihnya pada diri sendiri sambil membayangkan wajah ibunya dalam balutan telekung putih dengan mata berkaca kaca. Ada keharuan yang tiba tiba menyusup begitu saja ke dalam dadanya.

Kalaulah ia mahu berfikiran jujur, maka impiannya yang paling tulus adalah segera pulang ke tanah air bertemu dengan ibu dan adik beradiknya. Tidak ada impian yang lebih kuat dalam jiwanya melebihi daripada itu. Namun akal sihatnya selalu menahan agar impiannya itu tidak sampai meledak dan melemahkannya.

Adalah wajar bagi seseorang yang sudah bertahun tahun tidak bertemu keluarganya dan mengharap agar bertemu keluarganya. Namun jika dengan sedikit kesabaran, pertemuan itu akan menjadi lebih bermakna, kenapa tidak bersabar sedikit. Ia boleh saja mengusahakan pulang. Tetapi kuliahnya belum selesai dan adik adiknya masih memerlukan dirinya untuk bekerja keras. Ia tidak ingin menyerah pada kerinduan yang menjadi penghalang kejayaan. Ia ingin adik adiknya berjaya, dirinya berjaya. Semuanya berjaya. Gambaran masa depan jelas. Baru ia akan pulang.

"Mas Khairul, pulang jom!"

Suara tiu mengejukannya. Ia memandang ke arah suara tersebut. Pak Ali telah berdiri di samping kanannya.

"Dari mana Pak Ali? Saya cari cari dari tadi."

"Aduh Mas, perutku sakit. Aku dari tandas, Jom kita pulang ke hotel ya. Nampaknya aku harus segera istirehat ni."

"Lha, Pak Ali tidak menunggu Pak Dubes. Nanti kalau Pak Dubes cari bagaimana? Habis tu, kalau saya pulang, siapa yang akan membersihkan barang barang ini?"

"Tenang. Aku sudah tidak ada tugas malam ini. Pak Dubes nanti, biar dipandu oleh Pak Amrun. Barang barang itu pula biar diurus oleh kak Eliana. Aku sudah berbicara dengan kak Eliana. Katanya kita pulang tak apa apa. Apalagi sebahagian mereka mahu berjaga sampai pagi. Termasuk Pak Dubes dan kawannya dari Turki."

"Baiklah, kalau begitu. Saya juga sudah letih. Terus kita pulang naik apa Pak Ali?"

"Senang saja. Yang penting kalau sama Pak Ali beres deh. Kita pulang naik teksi, biar aku yang bayar."

"Ya, sudah kalau begitu. Ayuh."

Dua orang itu bergegas ke luar ke jalan lalu meluncur ke hotel dengan teksi. D alam perjalanan ke hotel, Azzam lebih bayak diam. Ia hanya berbicara jika Pak Ali bertanya. Azzam masih terbayang bayang wajah ibu dan adik adiknya.

"Kalau boleh tahu, berapa umurmu Mas Khairul?"

"Dua puluh lapab, Pak."

"Kalau aku perhatikan, gurat wajahmu lebih tua sedikit dari umurmu. Nampaknya kau memikul sebuah beban yang sangat berat. Aku perhatikan kau lebih banyak berkerja daripada belajar di Mesir ini. Boleh aku tahu tentang hal ini?"

"Ah Pak Ali terlalu perhatikan saya. Saya memang perlu berkerja keras Pak. Bagi saya ini bukan beban. Saya tidak merasakannya sebagai satu bebanan. Meskipun orang lain mungkin melihatnya sebagai satu beban. Saya memang perlu berkerja untuk menyara adik adik saya di Indonesia. Ayah saya meninggal dunia ketika saya baru setahun kuliah di Mesir. S aya punya tiga orang adik beradik. S emuanya perempuan. Saya tidak ingin pulang dan meninggalkan kuliah di tengah jalan. Maka satu satunya jalan adalah saya harus berkerja keras di sini. Jadi itulah kenapa saya sampai menjual tempe, jual bakso dan membuka perkhidmatan catering."

Pak Ali mengangguk angguk sambil meraba raba letak cermin matanya sambil mendengar pertuturan Azzam. Ada rasa kagum yang hadir begitu sahaja di dalam hatinya. Anak muda yang kelihatannya tidak begitu berprestasi itu sesungguhnya memiliki prestasi yang jarang dimiliki anak muda seusianya.

"Aku sama sekali tak menyangka kau membiayai adik adikmu di Indonesia. Aku sangat kagum dan hormat padamu nak. Sesungguh ketika banyak mahasiswa yang sangat manja dan bergantung kepada kiriman daripada orang tua. Kau justeru sebaliknya. Terus berkerja keras Mas, aku yakin engkau kelak akan meraih kejayaan dan kegemilangan. Teruslah berkerja keras nak, setahu saya yang membezakan orang yang berjaya adalah kerja keras. Dan nanti kalau kau sudah berjaya, jagalah kejayaan itu. Setahu saya, dari membaca biografi orang orang yang berjaya, ternyata hal yang paling berat tentang kejayaan adalah menjaga diri yang telah berjaya agar tetap maju."

"Terima kasih Pak Ali. Tapi saya minta Pak Ali tidak menceritakan apa yang saya ceritakan tadi kepada orang lain. Saya tidak mahu itu jadi consume banyak orang. Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa Al-Azhar yang tidak lulus lulus kerana lebih suka bisnes tempe, bakso dan catering. Itu bagi saya sudah cukup membuat bahagia. Janji Pak ya?"

"Ya, saya janji."

Tak terasa teksi sudah sampai di depan hotel. Azzam turun. Pak Ali membayar tambang teksi lalu menyusul turun.

"Perutnya masih sakit Pak?"

"Ya. Masih terasa. Aku rasa aku harus segera ke toilet. Oh ya nak Khairul, kau terus ingin istirehat?"

"Ya Pak, saya merasa letih sangat."

"Baiklah. Oh ya, bagaimana kalau besuk habis solat Subuh kita sembang sembang sambil jalan jalan di sepanjang pantai. Semoga sakit perutku sudah sembuh.

"Wah! dengan senang hati pak."

"Kalau begitu nanti kalau kau mahu solat Subuh aku call ya. Kita sembahyang Subuh di masjid bersama. Dari masjid kita terus jalan jalan. Aku akan memberimu cerita yang indah. Kau pasti senang mendengarnya."

"Baik Pak. Pergi dulu, assalamu'alaikum", kata Azzam.

"Wa'alaikumussalam. Sampai ketemu besok", jawab Pak Ali.

Azzam bergegas menuju lif, sementara Pak Ali menuju toilet. Hotel itu masih ramai. Beberapa orang masih asyik berbicara di lobby hotel. Dua orang lelaki kulit putih nampak sedang serius berbicara dengan orang Arab berjubah putih. Dan caranya memakai kopiah nampaknya ia orang teluk. Lourantos Restauran yang terletak tidak jauh dari lobby juga ramai dengan pengunjung.

Sampai di bilik, Azzam terus merebahkan badannya. Ia tinggal menunggu mata terpejam. Telefon di biliknya berdering. Ia sangat tidak menginginkan telefon itu. Ia paksakan untuk bangkit dan mengangkatnya. Dari Eliana.

"Hei Mas Insinyur, kok sudah pulang sih?" Suara dari gagang telefon.

"Ya, diajak Pak Ali yang sakit perut. Saya juga sudah letih."

"Seharusnya kalau mahu pulang beritahu pada saya. Terima kasih ya, ikan bakarnya sedap. Pak Juneidi puas sangat. Oh ya, sebenarnya aku mahu memberi hadiah istimewa. Tapi Mas Insinyur sudah pulang sih?"

"Hadiahnya apa?"

"Mahu tahu?"

"Ya."

"Ciuman istimewa daripadaku."

"Apa? Ciuman istimewa?"

"Yes."

"Ciuman istemewa Mbak Eliana itu ciuman yang bagaimana?"

"French kiss, ciuman khas Perancis."

"Mbak mahu menghadiahkan aku ciuman khas Perancis? Ah yang benar saja?"

"Benar. Sungguh! Tapi Mas Khairul sudah pulang sih. Jadi sorry ye."

"Ah Mbak jangan menggoda orang miskin dong."

"Saya tidak menggoda, serius. Saya sungguh sungguh mahu memberi Mas Khairul ciuman itu, tadi sayang abang sudah pulang."

"Alhamdulillah. Untung saya terburu buru pulang."

"Lho kok, malah merasa untung."

"Ya. soalnya jika dapat ciuman khas Perancis dari Mbak, bagi saya bukanlah jadi hadiah, tapi jadi musibah!"

"Jadi musibah?"

"Ya."

"Serius!? Tidak berguraukan?"

"Serius! sangat serius."

"Boleh dijelaskan kenapa jadi musibah?"

"Penjelasannya panjang, besok saja! yang jelas perlu Mbak ingat baik baik, saya bukan orang putih! sudah saya harus istirehat. Maaf!"

Klik!

Azzam memutuskan pembicaraan dan meletakkan gagang telefon sambil mendesis kesal.

"Dasar perempuan didikan Perancis tidak tahu adab kesopanan. Sudah tahu aku ini mahasiswa Al-Azhar mahu disamakan dengan orang putih saja! Gila mungkin!"

Telefon di biliknya berdering lagi. I a biarkan saja. Tidak ia sentuh sama sekali. Ia yakin itu telefon daripada Eliana yang mungkin sedang emosi atau melayan perasaan. Telefon itu berdering dering sampai mati. Azzam mengambil wudhu'. Membaca doa. Memperlahankan air-cond. Dan siap untuk tidur. Telefon di kamarnya kembali berdering. Ia sedang membaca ayat Kursi. Sama sekali ia tidak berganjak dari tempat tidurnya. Telefon itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri. Ia tidak perlu mengangkatnya, sekiranya umur masih panjang, besok akan bertemu lagi dan berbicara panjang lebar kenapa hadiah ciuman itu baginya adalah musibah.

Sementara di El Muntazah, Eliana nampak gusar dan geram. Berani beraninya pemuda itu memutus pembicaraan begitu saja. Dan berani beraninya ia memandang sebelah mata terhadap dirinya. Fikirnya. Baru kali ini ia tidak dianggap bahkan diremehkan oleh seorang pemuda. Yang membuatnya geram kali ini, yang meremehkannya justeru orang yang sama sekali tidak diperhitungkannya.

"Dasar pemuda kampung kolot! Pemuda konservatif! Pemuda bahlul bin tolol! Awas nanti ya? Geramnya.

Orang orang yang memperhatikan tingkah laku Eliana itu jadi tertanya tanya. Ada apa dengan Puteri Pak Duta Besar itu? Siapa pemuda yang dikatakan kolot itu? Siapa pemuda yang diumpatnya itu?


***

Selesai membaca Ayat Kursi, Azzam tidak boleh tidur langsung. Ia merasa ada yang salah hari ini. Yang salah itu adalah rasa tertariknya pada anak Pak Dubes dan harapannya yang tidak tidak padanya. Setelah sembilan tahun, baru kali ini hatinya tertarik pada seorang gadis.

Dulu waktu di pesantren, waktu di Madrasah Aliyah, ia pernah merasa suka pada seorang siswi yang di matanya sangat mempesona. Namanya Salwa. Selain wajahnya yang menurutnya bagai bidadari, suaranya sangat merdu. Siswi dari Pati itu menjuarai MTQ (Musabaqah Tilawah Al-Qur'an) peringkat Jawa Tengah. Namun ia hanya boleh memendam rasa sukanya itu di dalam hati. Sebab ia tahu Salwa sudah dipinang oleh putera sulung Pengasuh Pesantren, Gus Mifdhal. Setelah itu ia tidak mahu membuka hatinya lagi.

Yang ia hairan, entah kenapa ketika mendengar prestasi prestasi Puteri Pak Dubes itu hatinya merasakan sesuatu yang lain. Ia mengkagumi gadis itu. Dan ketika melihat wajahnya, ia semakin kagum. Lalu ketika ia baru sedikit dekat saja sudah merasakan apa yang dulu ia rasakan terhadap Salwa. Ia harus mengakui ia jatuh cinta pada Eliana dan berharap yang tidak tidak. Ia sendiri hairan kenapa?

Padahal ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gadis cantik. Ia sering membantu bapak bapak pejabat KBRI dan sering bertemu dengan anak gadis mereka yang sebenarnya tidak kalah jelitanya. Tapi ia merasa biasa biasa saja. bahkan ia pernah pergi umrah dan membimbing jemaah dari Jakarta. Di antara jemaah itu ada seorang foto model yang masih kuliah di Jakarta. Namanya Vera. Foto model cantik itu kelihatan tertarik padanya. Sebab setelah Vera kembali ke Jakarta, ia sering menelefon dirinya dan mengirimkan bungkusan. Namun ia sama sekali tidak tertarik padanya. Kini Vera sudah jadi bintang filem. Dan ia juga tidak minta sedikit pun untuk sekadar menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan foto model itu kerana gaya hidupnya yang ia anggap tidak seiring dengan jiwanya. Dan cara berpakaiannya yang menurutnya kurang sopan meskipun sudah berulang kali mengerjakan umrah dan naik haji. Dalam hati ia berkata dengan tegas.

"Cantik ya. Tapi kalau tidak boleh menjaga aurat, tidak memiliki rasa malu, tidak memakai tudung, tidak mencintai cara hidup yang agama, bererti bukan gadis yang aku idamkan!"

Standard dia untuk calon isteri, minimanya adalah Salwa. Dan standard itu tidak pernah ia turunkan. Tapi entah kenapa, saat bertemu Eliana yang cara berpakaian dan cara hidupnya, menurutnya, tidak berbeza demgan Vera, hatinya akan luluh. Kenapa ia menurunkan standard yang telah bertahun tahun ia jaga. Bahawa calon isterinya, minimanya adalah perempuan yang bertudung litup, boleh membaca Al-Qur'an dan pernah mengecapi kehidupan pesantren.

Dan betapa menyesal dirinya begitu menurunkan standard, ternyata yang ia dapatkan adalah kehinaan. Akal sihatnya menggiringinya untuk kecewa pada Eliana. Kecewa kerana ia merasa sudah dapat meraba cara hidup Eliana. Ia tidak boleh membayangkan bagaimana kehidupan Puteri Pak Dubes itu ketika kuliah di Perancis. Sudah berapa ramai lelaki orang putih dan bukan orang putih yang berciuman bibir dengannya. Dan is ditawari untuk jadi lelaki ke sekian yang berciuman dengannya. Ini jelas bertentangan dengan apa yang ia jaga selama ini. Iaitu kesucian. Kesucian jasad, kesucian jiwa, kesucian hati, kesucian niat, kesucian fikiran, kesucian hidup dan kesucian mati.

Entah kenapa tiba tiba ia merasa berdosa. Ia merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terpedaya oleh penampilan luar yang menipu. Ia jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya. Ia hairan sendiri kenapa jati dirinya seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Eliana. Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beristighfar dalam hatinya. Berkali kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya.

Azzam meratapi kesilapannya dan memarahi dirinya sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Ia juga bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah hebatnya dengan Eliana, tapi bertudung litup, solehah, boleh berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau terpaksa gadis itu harus orang Mesir tak mengapa. Yang jelas rasa terhinanya harus ia sirnakan.

Ia harus menemukan kembali kehormatannya sebagai seorang Azzam yang memiliki harga diri. Meskipun masyarakat Indonesia di Mesir mengenalinya hanya sebagai tukang masak atau penjual tempe, tapi harga diri dan kesucian diri tidak boleh diremehkan oleh sesiapapun juga. Ia yakin akan mendapat isteri yang lebih jelita dari Eliana, dan lebih baik darinya. Ia yakin. Itu tekadnya. Ia ulang ulang tekad itu ke dalam tidurnya. Ke dalam mimpinya. Dan ke dalam alam bawah sedarnya.

***

Thursday, February 4, 2010

KETIKA CINTA BERTASBIH - (1) Senja Bertasbih di Alexandaria


Ermmm dah lame aku tak tepek post rupanye (saje je buat2 lupe.. hehehee). Bersesuaian dgn bln Februari yg diagung2kan oleh pasangan mudamudi... rasa akulah inilah masanya... molek benar aku sajikan bola mate korang dgn nukilan Pak Habiburrahman yang sarat dgn cinta. Moga2 hati kita yg macam nak terkatup tu... bisa terbuka seluasnya...

DI MATANYA
, Kota Alexandria petang itu nampak begitu mempesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah olah menyepuh atap atap rumah, gedung gedung, menara menara, dan kenderaan kenderaan yang lalu lalang di atas jalan. Terpancar cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.


Di atas pasir pantai yang putih anak anak masih leka bermain kejar kejaran. Ada juga yang bermain rumah rumah dari pasir. Di tangan anak anak itu pasir pasir putih nampak seumpama butiran butiran emas yang lembut berkilauan diterpa oleh sinar matahari senja.

Di beberapa tempat, di sepanjang pantai, pasangan muda mudi nampak bercengkerama mesra. Di antara mereka masih ada yang membawa buku buku tebal di tangan. Menandakan mereka baru saja datang dari kampus dan belum sempat pulang ke rumah. Suasana senja di pantai rupanya lebih menarik bagi mereka daripada suasana senja di rumah. Bercengkerama dengan pujaan hati rupanya lebih mereka pilih daripada bercengkerama dengan keluarga, ayah, ibu, adik dan kakak di rumah.

Di mana mana muda mudi yang sedang jatuh cinta adalah sama. Senja menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita yang indah indah. Saat itu yang ada dalam hati dan fikiran mereka adalah pesona sang kekasih yang dicintai. Tidak terlintas sedikit pun bahawa senja yang indah yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika masa muda mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta Cinta. Dan jatuh cinta mereka pun harus dipertanggungjawabkan kepadaNya. Di hadapan pengadilan Dzat Yang Maha Adil, yang tidak ada sedikit pun kezaliman dan ketidakadilan di sana.

Di matanya, Kota Alexandria petang itu nampak begitu indah. Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih. Bergelombang naik turun. Berkejar kejaran menampakkan keriangan yang sangat menawan. Tiupan agin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar benar terasa seumpama dasau suara zikir alam yang menciptakan suasana tenteram.

Dari tingkap biliknya yang terletak di tingkat lima Hotel Al-Haram, ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria petang itu telah membuatnya seolah olah tidak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya di penuhi keindahan dan kedamaian saja.

Sesungguhnya bukan semata mata cuaca dan suasana menjelang musim bunga yang membuat Alexandria senja itu begitu mempesona. Bukan semata mata sinar matahari senja yang membuatkan Alexandria begitu menakjubkan. Bukan semata mata pasir putihnya yang membuat Alexandria begitu menawan. Akan lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya nampak menakjubkan adalah kerana bunga sedang bertandang di hatinya. Matahari kebahagiaan sedang bersinar terang di sana. Bunga bunga kasturi sedang menebarkan wanginya. Lagu lagu cinta mengalun di dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya. Dan penyebab itu semua, tidak lain dan tidak bukan adalah seorang gadis sastera, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah.

Gadis itu adalah kilauan matahari di musim bunga. Sosok yang sedang menjadi buah mulut di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi ramai orang. Dikagumi bukan hanya kerana kecantikan fizikalnua, tetapi juga kerana kecerdasan dan kejayaan kejayaan yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah puteri orang nombor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.

Dialah Eliana Pramesthi Alam. Puteri satu satunya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani kedua orang tuanya, keberadaannya di Negara Piramid itu untuk melanjutkan M.A.nya di American University in Cario (AUC).

Belum begitu lama menghirup udara Mesir, gadis yang memiliki suara jernih itu terus menunjukkan bakatnya. Sekaligus, ia terus menjadi pusat perhatian. Sebab baru satu bulan di Cairo, tulisan cadangannya dalam bahasa Inggeris sudah dimuatkan di surat khabar Ahram Gazette.

Pandangannya menyoroti peran Liga Arab yang mandul dalam memperjuangkan martabat anggota anggotanya. Liga Arab yang tidak mempunyai kekuatan untuk berhadapan dengan Israel dan sekutunya. Liga Arab yang hanya boleh bersuara, tapi tidak boleh berbuat apa apa. Tulisannya rapi, jelas, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sasterawan dan diplomat yang unggul.

Kerana pandangannya itulah, ia terus diminta menjadi bintang tetamu di Nile TV. Di layar Nile TV ia berdebat dengan Sekjen Liga Arab. Hampir seluruh masyarakat Indonesia di Mesir menyaksikan siaran langsung istimewa itu. Baru kali ini ada anak Indonesia berbicara di sebuah forum yangtidak sembarangan orang diundang. Sejak itulah Eliana menjadi bintang yang bersinar di langit cakerawala Mesir, terutama di kalangan mahasiswa Indonesia.

Terhitung, gadis yang menyelesaikan B.A.nya di EHESS Perancis itu sudah tiga kali tampil di layar televisyen Mesir. Sekali di Nile TV. Dua kli di Channel 2. Wajahnya yang tidak kalah pesonanya dengan diva pop dari Lebanon, Nawal Zoughbi, dianggap layak tampil di layar kaca. Selain kerana ia memang puteri seorang duta besar yang cerdas dan fasih berbahasa Inggeris dan Perancis.

Eliana, Puteri Pak Dubes itulah yang membuatnya berada di Alexandria dan tidur di Hotel berbintang lima selama satu minggu ini. Meskipun ia sudah berulang kali ke Alexandria, namum keberadaannya di Alexandria kali ini, ia rasakan sangat begitu istimewa. Ia tidak boleh menggingkari dirinya adalah manuasia biasa, bukan malaikat. Ia tidak boleh menafikan dirinya adalah pemuda biasa yang boleh berbunga bunga kerana merasa dekat dan dianggap penting oleh seorang gadis cantik dan terhormat seperti Eliana. Gadis yang membuat matahari kebahagiaan sedang bersinar terang di hatinya.

Awalnya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang mengadakan acara 'Minggu Promosi Pelancongan dan Budaya Indonesia di Alexandria.' Beberapa acara persembahan kebudayaan berlangsung di Auditorium Alexandria University selama satu minggu. Selama itu juga ada promosi masakan dan makanan khas Indonesia. Sementara itu pula, ia selama ini dikenali sebagai mahasiswa paling mahir memasak. Dan ia digajikan oleh KBRI untuk membuka gerai Nasi Timlo Solo. Mulanya ia menolak. Sebab, dengan begitu ia harus meninggalkan bisnesnya membuat tempe selama seminggu. Ia risau pelanggannya kecewa. Namun puteri Dubes itu terus mendesak dan memohon kesediannya. Akhirnya dia mengalah dan bersedia.

Sejak itulah hatinya berbunga bunga. Sebab sebelum berangkat ke Alexandria ia sering ditelefon Eliana. Dan waktu di Alexandria hampir setiap hari Eliana datang ke gerainya untuk mengawasi, melihat lihat, atau hanya sekadar untuk mengajaknya berbicara apa saja.

"Aku kagum lho ada mahasiswa yang berdikari seperti Mas Insinyur." Puji Eliana. hatinya tersanjung sangat luar biasa.

Bagaimana tidak, gadis jelita itu seolah olah bagai menghormatinya. Ia dipanggil dengan panggilan "'Mas Insinyur' , bukan terus memanggil namanya, atau dengan kata ganti ' kamu' atau 'anda'. Orang orang memang biasa memanggilnya 'Mas Khairul' namanya Khairul Azzam atau 'Mas Insinyur' ia dikenali dengan 'Insinyur'nya kerana dia seorang yang paling pandai memasak di kalangan mahasiswa Indonesia di Cairo. Entah kenapa, mendengar pujian dari Eliana itu, ia merasakan kebahagiaan dengan nuansa yang sangat lain. Kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia tersenyum sendiri. Kedua matanya memandang ke arah pantai. Dua orang muda mudi Mesir berjalan mesra menyusuri pantai Cleopatra yang berada tepat di depan hotel.

Ia tersenyum sendiri. Entah kenapa tiba tiba berkelibat dalam fikiran, andai yang berjalan itu adalah dirinya dan Eliana. Alangkah bahagianya.

Astaghfirullah! ia beristigfar.

Ia merasakan apa yang berkelibat dalam fikirannya itu sudah tidak dianggap benar.

Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut Mediteranian. Nun jauh di sana ia melihat ada tiga buah kapal yang nampak kecil dan hitam. Kapal kapal itu ada yang sedang menuju ke Alexandaria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandaria. Sejak dulu lagi Alexandaria memang terkenal sebagai kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediteranian. Pelabuhan Alexandaria saat ini ada di kanan dan kiri kawasan Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu terletak di Semenanjung Alexandaria lama. Di hujung semenanjung itu berdiri dua buah benteng bersejarah, iaitu Benteng Qaitbai dan Benteng El Atta.

Dari tingkap biliknya ia boleh melihat benteng Qaitbai itu di kejauhan. Kedua matanya kembali mengamati tiga buah kapal yang letaknya berjauhan satu sama lain. Ia halakan pandangan ke kiri dan kanan. Laut itu terlihat begitu luas dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin ada ratusan manusia. Ia jadi berfikir, alangkah kecilnya manusia. Dan alangkah Maha Penyayangnya Tuhan yang menjinakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di antara manusia yang berada di dalam kapal itu terdapat manusia manusia yang sangat derhaka kepada Tuhan. Walaupun begitu, Tuhan masih sahaja menunjukkan rasa kasih sayangNya. Ia jinakkan lautan, yang jika Ia berkehendak, Ia boleh menitahkan ombak untuk tenggelamkan kapal itu dan bahkan meluluhlantakkan seluruh isi Kota Alexandaria. Ia teringat firman Nya yang indah :

Tidakkah engkau memperhatikan bahawa sesungguhnya kapal itu berlayar di lautan dengan ni'mat Allah, agar diperlihatkan Nya kepadanya sebahagian dari tanda tanda kebesaranNya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda tanda kebesaranNya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (Luqman: 31)

Ia terus memandang ke laut Mediteranian. Laut telah menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa peristiwa besar yang menggetarkan dunia. Perang besar yang berkobar kerana memperebutkan cinta Ratu Cleopatra terjadi di laut itu. Pertemuan bersejarah yang diabadikan dalam Al-Qur'an antara Nabi Musa dan Nabi Khidir, konon, juga terjadi di salah satu pantai laut Mediteranian itu.

"Laut yang indah, penuh nilai sejarah," lirihnya pada dirinya sendiri. "Akankah aku juga akan mencatatkan sejarahku di pantai laut ini?" Ia berkata begitu kerana malam nanti ada jadual makan malam bersama seluruh staf KBRI di pantai El Muntazah. Ia yakin akan bertemu lagi dengan Eliana di sana.

Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah olah menyapa dan menciumi pasir pasir pantai yang putih nan bersih terasa damai dan indah. Menyaksikan fenomena alam yang dasyat itu Azzam bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam seindah ini."

Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya. Segala keindahan, keterlaluan dan pesona alam bertasbih, menjelaskan keagungan Sang Pencipta. Bertasbih, menyucikan Tuhan dari sifat kekurangan. Keindahan senja petang itu menjelaskan kepada siapa saja yang menyaksikan bahawa Tuhan yang menciptakan senja yang luar biasa indah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna ilmuNya.

Siang, malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara, laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah. Semua telah tahu bagaimana cara melakukan solat dan tasbihnya. Dengan sinarnya, matahati bertasbih di peredarannya. Dengan hembusannya, udara bertasbih di alirannya. Dengan gelombangnya ombak bertasbih di jalannya. Semua telah tahu bagaimana cara menunjukkan tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa.

Keteraturan alam semesta, langit yang membentang tanpa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas membentang, gunung gunung yang menjulang, awan yang membawa air hujan, air yang menumbuhkan tanam tanaman, proses penciptaan manusia sembilan bulan di dalam rahim, bintang bintang yang menjaga ekosistem dan peraturan peraturan lainnya, itu semua menunjukkan bahawa ada Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaanNya tidak ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu adalah Tuhan Penguasa alam semesta. Dan jelas Tuhan itu hanya boleh satu adanya. Tidak mungkin dua, tiga dan seterusnya. Tidak mungkin!

Sebab, jika Tuhan itu lebih dari satu pastilah terjadi kerosakan di alam semesta ini. Sebab masing masing akan merasa Ia paling berkuasa. Masing masing akan memaksakan keinginanNya . Mereka akan berselisih faham. Misalnya yang satu menghendaki matahari terbit dari Timur, sementara yang satu menghendaki matahari terbit dari Barat. Terjadilah perseteruan. Dan rosaklah alam.

Ternyata matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tidak pernah terlambat terbit. Matahari juga tidak pernah bermain main, berlari lari ke sana ke mari di langit seperti anak kecil bermain bola atau main sorok sorok. Ia beredar di jalan yang ditetapkan Tuhan untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk Barat tepat pada waktunya. Peraturan ini menunjukkan, Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini adalah satu, iaitu Allah 'Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, yang tidak terbatas kekuasanNya itu memang tidak mungkin berjumlah lebih dari satu. Sebab seandainya Tuhan lebih daripada satu, lalu mereka sepakat menciptakan matahari misalnya. Maka mungkin ada dua kemungkinan di sana. Pertama, Tuhan yang satu menciptakan, sementara tuhan yang lain berpangku tangan. Tidak berbuat apa apa. Dengan begitu, akan bererti bahawa Tuhan yang tidak berbuat apa apa itu tidaklah Tuhan yang berkuasa. Sia sia saja ia jadi Tuhan. Sebab, pada saat matahari diciptakan, Ia tidak berkerjasama untuk menciptakannya. Ia menganggur. Sama seperti makhluk yang menganggur. Jadi ia bukan Tuhan dan tidak boleh disebut Tuhan.

Atau kemungkinan kedua, tuhan tuhan itu berkerjasama menciptakan matahari. Matahari diciptakan dengan saling kerjasama. Jika demikian, telah jelas mereka bukanlah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab mereka lemah. Bagaimana tidak. Untuk menciptakan matahari sahaja mereka harus berkerjasama. Tidak boleh menciptakan sendiri. KekuasaanNya tidak mutlak. Yang terbatas kuasanya bererti lemah dan tidak layak disebut sebagai Tuhan.

Jika Tuhan itu lebih dari satu, kemungkinan terjadi pembahagian tugas. Ada yang bertugas mencipta matahari, ada yang bertugas mencipta bumi, ada yang bertugas mencipta langit dan seterusnya. Jika demikian, mereka bukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab pembahagian tugas menunjukkan kelemahan, menunjukkan ketidakmahakuasaan. Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan Yang menciptakan dan menguasai seru sekalian alam. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan kekuasaanNya yang sempurna. Tuhan yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Dan yang memiliki sifat Maha Sempurna seperti itu hanya ada satu, iaitu Allah. Dialah Tuhan yang sebenarnya. Sebab tidak ada yang mengiistiharkan diri sebagai pencipta alam semsta ini kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Seandainya pada keduanya (di langit dan bumi) ada tuhan tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allah yang memiliki 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya': 22)

Pemuda bernama Khairul Azzam itu masih menatap ke arah laut. Matahari masih satu jengkal di atas laut. Sebentar lagi matahari itu akan tenggelam. Warna kuning keemasan bersepuh kemerahan yang terpancar dari bola matahari menampilkan pemandangan yang sangat indah. Ia jadi teringat sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."

"Subhanallah!"
Kembali ia bertasbih dalam hati.

Ia terus menikmati detik detik pergantian siang dan malam yang indah itu. Cahaya matahari seperti masuk ke dalam laut yang perlahan lahan menjadi gelap. Siang seolah olah masuk ke dalam perut malam. Matahari hilang tenggelam. Lalu perlahan bulan datang. Subhanallah.

Siapakah yang mengatur ini semua? Siapakah yang mampu memasukkan siang ke dalam perut malam? Seketika azan berkumandang menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang : Allahu Akbar! Allahu Akhbar! (Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!) Ya, hanya Allah Yang Maha Besar kekuasaanNyalah yang mampu memasukkan siang ke dalam perut malam. Dan memasukkan malam ke dalam perut siang.

Tidakkah engkau memperhatikan bahawa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Luqman : 29)

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu lampu jalan bersinar terang. Alexandria memperlihatkan cahayanya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. kelip kelip lampu kota yang mendapat julukan 'Sang Pengantin Laut Mediteranian' itu bagai tebaran intan berlian. Khairul Azzam menutup langsir tingkap biliknya. Ia bergegas untuk solat di masjid yang jaraknya tidak jauh dari hotelnya.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar, telefon di biliknya berdering. Ia terdiam sesaat. ia menatap telefon yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka pintu lalu melangkah keluar. "Kalau dia benar benar berhajat, nanti pasti dia telefon lagi setelah solat. Apakah dia tidak tahu sekarang ini waktu solat," lirihnya menuju lif.

Ia membenarkan tindakannya itu dengan berfikir bahawa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dahulu dari datangnya deringan telefon itu. Dan ia harus mendahulukan yang datang lebih dahulu. Ia harus mengutamakan undangan yang datang lebih dahulu. Apalagi undangan yang datang lebih dahulu itu adalah undangan untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dn lebih kekal. (Al-Ala : 17)


***

Saat pulang dari masjid, Azzam bertemu Eliana di depan pintu masuk lobby hotel. Melihat Azzam wajah Eliana nampak riang.

"Hei, ke mana saja? Aku sudah mencari Mas Khairul ke mana mana? Sudah dua puluh tujuh kali aku menelefon ke bilik Mas Khairul! Ada hal penting! Mari kita bicara di lobby saja!" Eliana berleter tanpa memberi kesempatan untuknya menjawab. Gadis berperanakan tubuh indah itu berbalut t-shirt lengan panjang ketat berwarna merah muda dan berseluar jeans putih ketat. Balutan khas gadis gadis bangsawan Eropah itu membuatnya nampak langsing, padat, dan berisi. Perfumenya menebarkan aroma bunga bungaan segar dan sedikit aroma epal. Wajahnya yang putih dengan mata bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.

Azzam masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa setelah ia tercium perfume yang dipakai Puteri Pak Dubes itu, ia merasakan nafasnya dedikit sesak, jantungnya berdegup lebih kencang, dan ada sesuatu yang tiba tiba datang begitu saja mengaliri tubuhnya. "Nape diam saja, mari Mas, kita bicarakan di lobby! Ini penting!" Eliana kembali mengajak Azzam masuk ke lobby hotel. Azzam tergagap. Ia mengangguk. Dan mahu tidak mahu Azzam mengikutinya. Sebab ia berada di Alexandaria kerana kontrak kerja dengannya.

"Mbak Eliana sudah solat?" tanya Azzam perlahan. Ia cuba menguasai dirinya, yang sesaat sempat bergoncang. Ia memanggilnya 'Mbak', meskipun ia tahu Eliana lebih muda tiga tahun dari dirinya. Tak lain, ini adalah kerana rasa hormatnya pada gadis itu sebagai Puteri pak Duta Besar.

"Ah solat itu senang! Yang penting ini. Ada tugas penting untuk Mas Khairul malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!" sahut Eliana berleter tanpa rasa dosa kerana mengambil mudah akan mengerjakan solat.

"Tu.... tugas?"

"Ya."

"Untuk saya!?"

"Ya. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Mas Khairul?"

"Tugas dari siapa?"

"Ya dariku."

"Dari Mbak?"

"Ya."

Azzam menghirup nafas. Detak jantungnya sudah normal. Ia sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dengan memik serius ia berkata :

"Sebentar Mbak, bukankah tugas saya sudah selesai petang tadi Mbak? Dengan berakhirnya acara Minggu Promosi Pelancongan petang tadi bererti tugas sayakan sudah selesai. Dalam kesepakatan yang kita buat, saya bertugas membuat dan menjaga Nasi Timlo Solo selama enam hari. Dari jam sepuluh pagi sampai jam empat petang. Menunggu gerai enam jam setiap hari. Bererti tugas saya sudah selesai. Jika ada tugas lagi, ini jelas di luar kesepakatan. Jelas saya tidak boleh menerimanya Mbak, maaf! Apa hubungannya Mbak dengan saya sehingga dengan senang hatinya Mbak memberi tugas kepada saya!? Apa saya ini orang bawahan Mbak1? Maaf saya tidak boleh Mbak!"

Meskipun ia di kalangan mahasiswa Cairo dikenali sebagai penjual tempe, ia tidak mahu diperlakukan dengan sesuka hati. Ia sangat sensitif terhadap hal hal yang terasa melecehkan harga dirinya. Memberi perintah seenaknya kepadanya adalah satu bentuk dari penjajahan ke atas harga dirinya. Azzam adalah orang yang sangat menghargai kemerdekaannya sebagai manusia yang hanya menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Eliana yang pernah sekian tahun tinggal di Perancis agaknya terus menyedari kesilapannya. Ia terburu buru membetulkan ucapannya dan meminta maaf.

"Maafkan aku Mas Khairul. Mas benar. Sebenarnya dengan kesepakatan perjanjian kita, tugas Mas sudah selesai. Tetapi ini ada masalah penting yang sedang aku hadapi. Dan aku rasa yang boleh membantu adalah Mas. Baiklah, ini di luar perjanjian. Ini antara aku dan Mas sebagai sahabat. Ya sebagai sahabat yang harus saling tolong menolong. Saling bantu membantu.

"Begini, majlis makan malam nanti pukul lapan di Pantai El Muntazh. Aku sudah memesan menunya melalui Omar Khayyam Restaurant. Masalahnya, dalam acara makan malam nanti secara mengejutkan kita kedatangan Bapak Duta Besar Indonesia untuk Turki yang datang siang tadi. Beliau teman sekuliah ayahku di FISIPOL UGM dulu. Ayah ingin menyediakan menu istimewa untuknya. Menu yang mengingatkan akan kenangan masa lalu. Menu itu adalah nasi panas dengan lauk ikan bakar disambal pedas khas Jogja. Ayah dulu sering makan menu itu bersama beliau di Pantai Parangtritis. Sebelum Maghrib tadi, ayah memintaku untuk menyiapkan menu ini. Aku pusing tujuh keliling. Yang jelas aku sudah menyuruh Pak Ali, pemandu KBRI itu untuk mencari ikan yang segar. Ikan apa saja, yang penting sesuai dibakar. Pak Ali membeli enam kilo, sekarang sudah ada di dalam peti sejuk di biliknya. Dan aku datang menemui Mas untuk meminta tolong menyiapkan ikan bakar itu. Mas Insinyur, tolong ya? Please ya?" Kata Eliana dengan nada kasihan.

Azzam diam sahaja. Sesaat lamanya dia diam tidak menjawab apa apa.

"Sungguh Mas, tolong aku ya. Please tolonglah. Aku janji, nanti aku akan berikan hadiah istimewa buat Mas. Please tolong aku. ini masalah kredibilitiku di hadapan ayahku. Kalau menguruskan ikan bakar saja aku tidak boleh, beliau akan susah mempercayai kredibilitiku mengelolakan sesuatu yang lebih penting. Tolong aku, Mas please. Aku tahu ini waktunya sangat singkat. Tapi aku yakin abang boleh lakukannya. Tolonglah ya?"

Eliana meminta dengan nada kasihan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan hidungnya. Gadis itu benar benar meminta belas kasihan di hadapan Azzam. Melihat wajiah kasihan di hadapannya, Azzam luluh. Sosok yang sangat tersinggung jika harga dirinya direndahkan itu adalah juga sosok yang paling mudah tersentuh hatinya.

"Baiklah, saya akan bantu setakat yang saya mampu. Tapi sebelum membantu Mbak Eliana, saya ingin hak saya atas apa yang sudah saya kerjakan selama enam hari di sini dibayar", jawab Azzam tenang.

"Sekarang?"

"Ya, sekarang."

"Apa Mas Khairul tidak percaya padaku?"

"Siapa yang tidak percaya? Saya hanya menuntut hak saya."

"Baiklah." Eliana mengeluarkan dompet dari poket seluar jeansnya. Lalu mengeluarkan lembaran dollar kepada Azzam.

"Ini tiga ratus dollar. Seperti kesepakatan kita satu harinya lima puluh dollar."

"Terima kasih." Azzam menerina wang itu sambil tersenyum.

"Nanti resitnya menyusul kemudian ya."

" Nah, sekarang boleh bantu saya?"

"Baiklah, sekarang masalah bantu membantu, Bukan bisnes. Saya ingin ikhlas membantu, jadi saya tidak akan mengharapkan apapun dari Mbak."

"Tapi, tadi aku sudah beritahu akan memberi hadiah istimewa."

"Itu tak penting. Kerana waktunya sudah singkat, yang paling penting saat ini adalah mencari perencah untuk ikan bakar itu dan untuk sambalnya. Perencah yang masih tersisa dari Nasi Timlo tidak mencukupi. Di tempat saya juga sudah tidak ada cili satu biji pun", jawab Azzam.

"Kalau begitu sekarang juga kita berangkat mencari apa yang Mas perlukan. Sebentar, aku panggil Pak Ali dulu, ia lebih faham selok belok Alexandaria", sahut Eliana bersemangat. Gadis itu terus menghubungi Pak Ali dengan telefon tangannya.

"Kita diminta ke depan. kebetulan Pak Ali sudah ada di dalam kereta. Memang tadi saya berpesan akan pergi setelah solat Maghrib. Mari kita berangkat!" Kata Eliana setelah menelefon.

"Sebentar. Apa tidak sebaiknya Mbak solat Maghrib dahulu, kalau belum solat?"

"Aduh, solat lagi, solat lagi. Solat itu gampang!"

"Lho, jangan meremehkan solat Mbak. Kalau Mbak belum solat lagi, lebih baik Mbak solat saja. Biar saya dan Pak Ali sja yang berbelanja."

"Tidak, saya harus ikut. Tidak tenang rasanya kalau saya tidak ikut. Tentang solat yang Mas Khairul katakan itu tenang saja Mas. Aku memang sedang uzur. Kalau solat juga, tentu berdosa. Tahu sendirikan perempuan ada saat saat dia tidak boleh solat. Jom kita berangkat. Kita harus cepat, waktunya singkat!"

"Kalau begitu ayuh."

Azzam bangkit.

Mereka berdua berjalan tergesa gesa ke luar hotel. Tepat di depan pintu hotel, Pak Ali telah menunggu dengan kereta BMW hitam. Petugas hotel membukakan pintu kereta. Azzam duduk di depan, di sebelah Pak Ali dan Eliana duduk di bangku belakang. Eliana memberi arahan kepada Pak Ali agar membawa ke kedai menjual bahan perencah secepat mungkin. Pak Ali terus menekan minyak melintas di atas El Ghaish Street menuju ke arah pusat perbelanjaan di kawasan El Manshiya, Azzam menikmati perjalanan itu dengan hati nyaman dan bahagia. Meskipun sebenarnya ia sangat penat, namun rasa bahagia itu mampu mengatasi rasa penatnya. Entah kenapa ia merasa malam itu terasa begitu indah. Berjalan di sepanjang jalan utama Kota Alexandaria dengan kereta mewah bersama seorang Puteri Duta Besar yang berjiwa sastera. Ia merasakan kebahagiaan itu sempurna jika kereta BMW itu adalah miliknya, ia sendiri yang memandunya dan Eliana duduk di sebelahnya sebagai isterinya dengan busana Muslimah yang anggun mempersona.

"Hayo, Mas Insinyur melamun ya?" suara Eliana mengejutkan lamunannya.

"E... ti.. tidak! Saya hanya takjub dengan suasana malam kota ini. Dan saya bertanya bila boleh memiliki kereta semewah ini, dan memandunya bersama isteri di kota ini?" Jawab Azzam sedikit gugup.

"Wah, impian Mas Insinyur tinggi juga ya? Saya yakin jarang ada orang yang bermimpi seperti Mas. Anak muda Indonesia yang mempunyai impian memandu kereta BMW, saya rasa tidak banyak. Apa lagi yang bermimpi memandunya bersama isterinya di kota ini. Jangankan bermimpi seperti itu, BMW saja mungkin ada yang belum tahu apa itu dan ada yang belum pernah melihat bentuknya. Lha, bagaimana boleh bermimpi? Bahkan mungkin di antara anak muda Indonesia, terutama di daerah pedalaman masih ada yang beranggapan bahawa BMW sejenis basikal, seperti dengan BMX."

Azzam tersenyum mendengar pandangan Eliana. Pandangan yang baginya terasa memandang rendah anak muda Indonesia. Tapi, dulu waktu ia masih di Madrasah Aliyah dan mengadakan perkhemahan dakwah di hujung tenggara Wonogiri, ia bertemu dengan jenis anak anak remaja dan anak muda yang masih sangat terbelakang cara pemikirannya. Mereka hanya merasa cukup dengan hanya lulus sekolah rendah saja. Bahkan banyak yang tidak lulus sekolah rendah. Mereka lebih suka mencari kayu bakar di hutan. Atau menggembala kambing di hutan. Mimpi mereka adalah bagaimana dapat kayu bakar yang banyak. Atau kambing mereka cepat beranak pinak. Itulam mimpi anak anak muda yang ada di pedalaman daratan Pulau Jawa. Ia bayangkan bagaimana dengan yang berada di tengah hutan Kalimantan dan Papua? Meeka yang berfikiran untuk memakai baju yang cantik saja belum termampu. Untuk menjamah mereka saja harus menempuh perjalanan yang sangat sukar. Ia terus membandingkan mereka dengan anak muda seperti Eliana yang sudah selesai kuliah di Perancis di usia yang masih belia. Pernah merasakan tidur di hotel paling mewah di Eropah. Pernah berdebat dengan Setiausaha Agung Liga Arab dengan berbahasa Inggeris yang fasih. Alangkah jauh bezanya.

"Ya, yang kau katakan mungkin ada benarnya. Memang tidak banyak dari mereka memiliki impian yang tinggi", komennya ringan. Dalam hati Azzam menambah: "Apalagi yang bermimpi boleh menyunting Puteri Dubes yang sekular seperti dirimu dan boleh menjadikannya Muslimah yang baik, pastilah sangat sangat sedikit jumlahnya."

"Kerana pemudanya tidak banyak yang mempunyai impian tinggi dan besar itulah, maka Indonesia tidak maju maju. Apa yang kau impikan selama ini, Mas? Bukan yang tadi. Yang selama ini kau impikan?" tanya Eliana.

"Kira kira apa, cuba, kau boleh teka atau tidak?" sahut Azzam.

"Mmm.... mungkin mendirikan pesantren."

"Salah."

"Terus apa?"

"Jadi orang yang paling kaya di Pulau Jawa he... he... he..."

"Wow... gila! It's great dream man! takku duga Mas Khairul punya impian sebesar itu. Impian yang aku sendiri pun tidak menjangkaunya. Gila! Boleh.... boleh! Kali ini aku boleh salut pada Mas Khairul."

BMW itu terus menuju dengan tenang dan elegan. Beberapa minit kemudian kereta itu berhenti di depan kedai penjual bahan perencah di El Hurriya Street. Dengan cepat dan cermat Azzam membeli bahan perencah. Azzam tidak lupa mengajak ke kedai penjual sayur sayuran.

"Untung saya ingat, ikan bakar itu harus ada ulam ulamannya", kata Azzam pada Eliana. Ia bergegas masuk ke kedai penjual sayur mayur dan membeli timun, kobis dan tomato untuk dibuat ulam ulaman. Setelah itu mereka meluncur kembali ke hotel dengan perasaan lega. Dan yang paling lega tentu saja Eliana. Jika bahan bakar telah didapati, bahan perencah telah diperolehi dan tukang masak yang akan memasak boleh diharapkan, apakah tidak layak baginya untuk merasa lega.

Dalam perjalanan ke hotel, Pak Ali memilih menelusuri El Hurriya Street. Terus ke arah Timur Laut. Mereka melalui Konsulat Amerika Syarikat. Terus melaju tenang. Sampai di kawasan Ibrahimiya sebelum Sporting Club belok kiri. lLlu belok kanan melaju di El Amir Ibrahim Street. Di dalam kereta Azzam melihat tren elektrik yang penuh dengan penumpang. Kereta itu melaju ke arah El Manshiya. Gadis gadis Mesir kelihatan berdiri di dalam tren. Tangan kanan mereka menggenggam erat pegangan seperti gelang, sedangkan tangan kiri mereka memegang buku.

"Sepertinya gadis gadis itu baru pulang dari kampus ya." Eliana kembali membuka suara. Eliana seperti tahu apa yang diperhatikan Azzam.

"Ya." Pelan Azzam.

"Gadis Mesir itu cantik cantik ya. Langsing langsing."

"Ya."

"Tapi saya lihat kalau sudah jadi ibu ibu, kenapa mereka kelihatan gemuk gemuk sekali ya?"

"Ya. Setahu saya memang adat di Mesir, seseorang suami malu kalau isterinya tidak gemuk. Malu dianggap tidak boleh memberi makan dan tidak boleh mensejahterakan isterinya."

"Aneh. Apa kesejahteraan itu bererti gemuk?"

"Tidak juga. Ada juga kan orang merana, orang stress malah gemuk. Tapi masyarakat Mesir moden agaknya sudah mulai meninggalkan adat adat itu. Kita juga mudah menemui ibu ibu Mesir yang tetap langsing."

"Ngomong ngomong, apa Mas Insinyur punya impian menikah dengan gadis Mesir?"

"Menikah dengan gadis Mesir?" Spontan Azzam mengulang pertanyaan Eliana.

"Ya. Pernah terlintas dalam hati?"

"Pernah."

"Ada kenalan gadis Mesir?"

"Ada."

"Cantik."

"Pasti."

"Wow. Tak ku sangka. Mas Insinyur ternyata benar benar pemuda berselera tinggi. Eh, Mas, jujur ya, kalau gadis seperti diriku ini menurut mas cantik tidak?"

Muka Azzam memerah mendengar pertanyaan itu. Seandainya ada cahaya yang terang pasti perubahan wajahnya akan kelihatan. Namun keadaan malam menutupi perubahan wajahnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan sepeti itu. Tiba tiba rasa tinggi hatinya muncul. Ia tidak mahu mengaku begitu saja kecantikan Puteri Duta Besar itu. Ia tidak mahu menyanjunginya sebagaimana orang orang ramai menyanjunginya.

"Kenapa diam Mas? Bagaimana Mas, orang seperti aku ini menurut Mas cantik atau tidak?" Eliana kembali mengulangi pertanyaannya.

"Cakap aja cantik! Begitu sekali memikirnya!" sahut Pak Ali sambil terus memandu kereta ke arah El Ghaish Street. Sebentar lagi mereka akan sampai.

"Jangan mempengaruhinya Pakcik. Biar dia jujur menilainya. cantik tidak?" Tanya Eliana buat ketiga kalinya.

"Tidak!" jawab Azzam sambil tersenyum. Azzam lalu memandang bulan purnama yang bersinar terang di atas laut. Purnama itu seolah olah tersenyum dan bertasbih bersama bintang bintang dan angin malam. Azzam tidak mahu tahu apa perasaan Eliana saat itu, yang penting dia merasa menang.

"Ah, kau tidak jujur tu Mas! Ayuh cakap jujur sajalah!" Protes Pak Ali dengan suara yang agak keras.

Azzam hanya tersenyum. Dan Diam, cukup dengan diam ia sudah menang. Dan Eliana pun diam. Ia belum menemukan kata kata yang tepat untuk berbicara. Maka memilih untuk diam. Sesaat lamanya Azzam dan Eliana saling diam. Kereta terus bergerak ke depan. Tak terasa mereka sudah sampai di halaman Hotel El Harum.

Thursday, January 14, 2010

Buang Toksin Dalam Badan

Nie yg tak berape sodap nie... ade je yg dok perli aku sbb lame x update... Aku ade bz ckit a.. dengan tugas2 aku... Macam tamak plk aku nie kdg2 tu bile dok pikir2... sume keje aku nak buat... bkn suke2 ekkk tp lbh kpd terpaksa...Pssttt sape2 yg nk beramal jariah dgn aku.. meh le daftar diri... heheheheee Klu x syg diri tu nk kene sekeh... buleh le... heheheee

Sebenarnya aku dah lame nak menaip artikel nie... Tp tu le.... baru aku nk bernapas kata org tu... ade je perkara2 berbangkit yg perlu aku bereskan... Abis mcm manakan... klu aku tak buat keje... nti soru plk miss heheheee

Dipendekan cerita... (sbb klu aku dah start bercerita... spi lusa pun tak tentu habisnya) korang bacalah artikel yg agak menarik nie yg aku songlap dr harian metro :

Wanita merupakan golongan yang sentiasa mementingkan kecantikan serta penampilan yang sempurna. Mereka sanggup menghabiskan ribuan ringgit untuk tujuan tersebut.

Namun, ramai daripada mereka hanya berfokus kepada penampilan fizikal tanpa menyedari kesihatan dalaman berperanan dalam menyerlahkan kecantikan luaran.

Bagaimana untuk memastikan sesorang itu sihat atau tidak dalamannya? Semuanya dapat diketahui melalui kulitnya.

Tubuh yang lesu, wajah yang pucat, berjerawat dan kusam, semuanya dipamerkan melalui kulit kita. Tidak hanya menjadi ejen pemberitahuan penyakit, malah kulit juga mampu memberitahu sama ada seseorang itu diselubungi perasaan tenang, gembira dan sebaliknya.

Justeru, bagaimana mahu kelihatan segar sentiasa, bertenaga, berseri dan mempunyai kulit yang mulus menawan.

Selain mengamalkan pemakanan sihat serta seimbang dan mengambil suplemen, melakukan pembuangan toksin dalam badan antara kaedah paling efektif.

Andai kata anda tidak pernah membuang toksin sejak lahir hingga kini, bermakna sudah bermacam sisa toksin terkumpul dalam badan.

Jika sistem semulajadi badan tidak mampu untuk membuang toksin tersebut secara semulajadi, ia akan menyebabkan kulit kita kusam, berjerawat dan banyak lagi keburukan lain.

Menurut Pengurus Produk Juvanex, Cambert (M) Sdn Bhd, Thomas Lim berkata, secara umumnya, jerawat, alahan, selsema, bau badan, mulut berbau dan banyak lagi terjadi kerana fungi pembuangan toksin yang sepatutnya berlaku terjadi sebaliknya.

"Toksin itu tetap keluar namun dalam bentuk cela pada kulit manusia yang mana simptom di atas boleh dilihat di wajah, sedangkan di dalam organ tubuh yang tidak pernah dibuang toksin akan menyebabkan kesan yang lebih buruk."

"Definasi buang toksin atau lebih popular dengan sebutan detox sebenarnya berkait rapat dengan sistem pencernaan dan hati manusia."

"Kebanyakan daripada kita menganggap detox hanya melibatkan bahagian pencernaan, tetapi amat penting untuk kita mengetahui bahawa organ hati juga memainkan peranan penting dalam pembuangan toksin dari tubuh badan manusia, iaitu menerusi pembuangan air kencing," jelasnya ketika ditemui di pejabatnya di Glenmarie, Shah Alam, Selangor.

Menurut Thomas, toksin terdapat hampir di semua organ manusia, di mana sebahagian besarnya terhasil apabila sisa makanan tidak dicerna sepenuhnya.

Antaranya, pemakanan ubat ubatan kimia, merokok, pengambilan minuman keras dan pemakanan yang tidak seimbang, tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh. Dan sisa ini akan terkumpul di mana mana bahagian dalam organ tubuh manusia.

"Sisa ini akan terkumpul untuk satu jangka masa dan menghasilkan toksin. Sepatutnya semua sisa ini dikeluarkan dengan cara semulajadi membabitkan dua organ utama iaiatu hati dan usus."

"Jadi kalau kita hendak pembersihan yang menyeluruh, dua organ tersebut perlu diberi perhatian kerana ia merupakan organ yang terlibat dalam pembersihan sisa toksin dari dalam badan," ujar Thomas.


Rutin Pembuangan Air Besar Terganggu

Antara kaedah penyingkiran toksin secara semulajadi ialah melalui perkumuhan seperti pembuangan air besar yang normal, sekurang kurangnya sekali sehari.

"Berdasarkan kajian yang dilakukan, didapati wanita lebih kerap mengalami masalah pembuangan air besar. Antaranya adalah kes wanita yang hanya membuang air besar seminggu sekali."

"Sebenarnya masalan ini berkait rapat dengan corak pemakanan yang tidak betul seperti kurang mengambil makanan berserat dan minum air masak, kurang bersenam serta pengambilan ubat termasuk ubat untuk kurus."

"Sebarang pengambilan ubat untuk kurus yang melawaskan pembuangan air besar akan menyebabkan gangguan pada rutin pembuangan air lebih lebih lagi apabila mereka menghentikan pengambilan tersebut. Mereka ini akan terdedah kepada penyakit sembelit," cerita Thomas berdasarkan pengalamannya.

Jika seseorang tidak membuang air dengan kadar sepatutnya, kemungkinan besar, najis yang berada di dalam usus akan menjadi hitam dan melekat pada dinding usus seterusnya menjadi toksin dalam tubuh."

"Apa yang sering terjadi ialah ramai antara kita bertindak apabila penyakit sudah menyerang tubuh. Mungkin ramai yang tidak sedar bahawa banyak penyakit bermula daripada usus, kerana organ tersebut menjadi tempat pengumpulan toksin."

"Jika ia tidak dikeluarkan maka toksin itu diserap semula dalam badan," katanya.

"Justeru, apabila tubuh tidak pernah melakukan proses detox atau nyah toksin sejak lahir, biasanya tubuh akan menghantar 'tanda'. Sakit kepala adalah salah satu daripada tanda toksin yang banyak dalam badan," jelas Thomas.


Tanda Seseorang Itu Banyak Toksin

Menurut Thomas, seseorang yang mempunyai toksin berlebihan dalam badan akan berasa letih tanpa sebarang sebab, susah bangun tidur dan bahagian keliling mata gelap.

Bahagian tertentu di permukaan kulit seperti di bahagian bawah lengan, celah peha dan sebagainya juga akan kelihatan gelap daripada warna asal kulit.

Banyak angin, alahan, inflamasi pada sendi, sinus, berat badan meningkat, kehadiran selulit, masalah jerawat dan banyak lagi. Semua ini adalah tanda bahawa tubuh perlu menjalani proses nyah toksin bagi membersihkan ruang yang tersumbat. Detox umpama ejen pencuci yang 'mengikis' dinding usus yang terlekat dengan sisa buangan yang tidak pernah dibuang, dalam tempoh yang sepatutnya.


Toksin Berlebihan Pengaruhi Emosi

Thomas yang turut membuat pemerhatian mendalam tentang proses nyah toksin mendapati, terdapat kajian yang menunjukkan bahawa jika seseorang mengalami toksin berlebihan dalam badan ia bukan hanya melibatkan fungsi anatomi tubuh tetapi emosi juga.

"Kita mungkin pernah terserempak atau melihat seseorang yang terlalu curiga dengan kebersihan. Contohnya, jika individu tersebut telah membasuh tangan, kemudian dia tersentuh sesuatu yang kita nampak bersih tapi tidak padanya dan dia cepat cepat mencuci semula tangannya."

"Ini adalah salah satu simptom yang mengaitkan dengan toksin berlebihan dalam tubuh individu tersebut."

"Selain itu, individu yang kerap marah marah, emosional dan sering tidak tenang, antara lain juga disebabkan oleh kandungan toksin yang berlebihan dalam tubuh."

"Ini kerana Iymphatic system (sistem limfa) jika tidak berfungsi sepatutnya menjadikan seseorang tidak boleh duduk diam, degil, tidak yakin dengan kebersihan dan kelam kabut," katanya.


Tidak Sesuai Untuk Ibu Mengandung

Ibu mengandung atau yang sedang menyusukan bayi tidak dicadangkan untuk menjalani proses membuang toksin, tetapi bagi ibu yang sedang merancang untuk hamil boleh mengamalkan detox sambil mengambil ubat seperti asid folik untuk perkembangan janin.

Selain itu, membuang toksin menyediakan tubuh badan yang lebih bersih untuk bakal ibu mengandung kelak.

"Selepas berdalin dan menyusukan anak, adalah disarankan kepada seseorang ibu itu untuk melakukan proses detox bagi tujuan mengembalikan kesegaran serta susuk tubuh yang lebih segar dan menawan," ujar Thomas.


Cara Ekstrem Buang Toksin

Menurut Thomas, antara cara lain yang popular dan boleh digunakan untuk membuang toksin ialah diet jus dan diet air.

Tetapi ada juga yang memilih cara yang lebih ekstrem iaitu melalui proses yang dinamakan 'colonic irrigation' atau mencuci usus.

Cara ini dibuat dengan memasukkan tiub ke dalam usus dan menyedut kotoran yang ada di dalamnya.

"Cara ini agak mahal dan hanya boleh dilakukan oleh pengamal perubatan yang diiktiraf sahaja," ujarnya sebelum mengakhiri perbualan.


huhhh 4 ari tu aku nak nyudahkan taip artikel yg cput je pjgnye... Apa2 pun semak2lah diri sendiri... apa yg boleh dibetulkan... cantik2kanlah sedikit. Cantik & sihat... itu yang penting...